Jalan Pramuka Raya Kav 50 No.15, Rawasari, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Indonesia
Berita

Mengenal Seren tahun Desa Cibarani: Warisan leluhur yang menghidupkan tradisi sunda

Herdy J. Prawiradipura  –  26 Agustus 2026

Upacara adat Seren Tahun di Desa Cibarani (Kasepuhan Cibarani) diselenggarakan setiap tahun sekali selepas masa panen pertanian. Tahun ini diselenggarakan tanggal 26 – 30  Agustus  2026  dan seperti biasanya waktu pelaksanaannya tidak menggunakan tanggal tetap pada kalender masehi, melainkan merujuk pada penanggalan adat Sunda berdasarkan siklus rampungnya panen padi. Tanggal pasti pelaksanaan biasanya dirembugkan dan ditetapkan terlebih dahulu melalui musyawarah bersama oleh ketua adat (kuncen) serta tokoh masyarakat setempat setelah musim panen berakhir.

Seren Tahun di Desa Cibarani merupakan salah satu tradisi agraris paling sakral dan meriah yang terus dijaga kelestariannya oleh masyarakat adat Sunda. Tradisi turun-temurun ini bukan sekadar sebuah perayaan, melainkan wujud rasa syukur yang mendalam kepada Sang Pencipta atas limpahan hasil bumi, kesuburan tanah, serta keselamatan yang diberikan selama satu tahun penanggalan Sunda. Kata “seren” sendiri memiliki arti serah atau menyerahkan, sedangkan “tahun” merujuk pada siklus tahun pertanian. Secara filosofis, ritual ini bermakna menyerahkan hasil panen padi yang telah disimpan ke dalam lumbung komunal (leuit) untuk menghadapi tahun pertanian berikutnya.

Rangkaian Prosesi Adat yang Sarat Makna

Pelaksanaan Seren Tahun di Cibarani melibatkan berbagai ritual sakral yang dipimpin langsung oleh ketua adat atau kuncen setempat. Setiap tahapan memiliki simbolisme yang erat kaitannya dengan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

·        Ngarak Nyi Pohaci: Kirab budaya membawa benih padi dan hasil bumi menggunakan wadah tradisional yang diiringi oleh tabuhan musik lesung (rengkong) dan kesenian khas buhun.

·        Ngukus dan Doa Bersama: Pembakaran kemenyan wangi sebagai simbol penghormatan kepada leluhur, dilanjutkan dengan pembacaan doa bersama memohon berkah dan perlindungan.

·        Nutu Pare (Menumbuk Padi Pertama): Simbolisasi pengolahan hasil panen perdana yang dilakukan secara gotong royong menggunakan alu dan lesung kayu.

·        Sedekah Bumi: Pembagian hasil bumi kepada masyarakat sebagai wujud kebersamaan, berbagi rezeki, dan mempererat tali silaturahmi antarwarga.

·        Geprek Rotan: Pemukulan seluruh anggota badan oleh diri sendiri dengan menggunakan belahan rotan

·        Musyawarah Desa: Rapat besar yang dihadiri Sesepuh desa bersama pimpinan daerah , pimpinan Kementriaan Pemerintah Pusat dan Propinsi.

·        Penenaman benih Kopi secara simbolik: Ajakan menanam kopi di kebun secara simbolik bersama sama sebagai acaara penutup.

Daya Tarik Budaya dan Pelestarian Warisan

Selain nilai spiritualnya yang tinggi, perayaan Seren Tahun di Desa Cibarani juga menjadi daya tarik pariwisata budaya yang memikat wisatawan lokal maupun mancanegara. Berbagai pertunjukan seni tradisional seperti angklung buhun, pencak silat, tari tradisional, hingga pameran produk UMKM lokal turut menyemarakkan jalannya acara. Melalui perhelatan ini, generasi muda diajak untuk mengenal, mencintai, dan melestarikan identitas budaya leluhur di tengah arus modernisasi. Tradisi ini membuktikan bahwa masyarakat Desa Cibarani tetap teguh memegang kearifan lokal dalam mengelola alam secara bijaksana dan berkelanjutan.

← Kembali ke Berita

Artikel Lainnya

April 6, 2026

Merawat Tradisi, Menenun Masa Depan: Jejak Rasamala Desa dalam Tilawat di Kuningan

Di bawah kaki Gunung Ciremai, tradisi Tilawat di Kabupaten Kuningan hidup sebagai denyut spiritual dan sosial masyarakat desa—bukan sekadar lantunan ayat suci, melainkan ruang pewarisan nilai, kebersamaan, dan identitas. Di tengah arus modernisasi, Tilawat menjadi jangkar budaya yang menjaga “nyawa” desa tetap utuh. Melalui keterlibatannya, Rasamala Desa menghadirkan pendekatan yang melampaui dokumentasi: mengangkat tradisi lokal ke ranah digital, memperkuat kebanggaan kolektif, dan menjadikannya inspirasi yang relevan bagi generasi masa kini.

Baca Selengkapnya
April 6, 2026

Dari Kunjungan ke Kolaborasi: Inisiatif Tumpangsari Kopi Liberika dan Madu Klanceng di Kabupaten Kuningan

Di bawah kaki Gunung Ciremai, sebuah pertemuan di Kabupaten Kuningan membuka jalan bagi kolaborasi inovatif antara kopi liberika dan madu klanceng. Kunjungan Tim Rasamala Desa.id ke Liberikaku dan Roem Institute bukan sekadar silaturahmi, melainkan langkah awal merancang kebun tumpangsari berbasis sinergi ekosistem. Integrasi ini menghadirkan manfaat ekologis melalui penyerbukan alami sekaligus peluang ekonomi lewat diversifikasi pendapatan petani. Lebih dari sekadar proyek pertanian, inisiatif ini menjadi model pembangunan desa yang kolaboratif, berkelanjutan, dan berorientasi pada kemandirian lokal.

Baca Selengkapnya